This is an example of a HTML caption with a link.

Mukmin itu bersaudara

“Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara.”
[al-Hujurat, ayat 10]

Bila berbicara perihal ukhuwah, yang terbayang di minda pastilah hubungan persahabatan antara dua manusia sahaja. Dua manusia yang saling mengenali, dan berada dalam kelompok atau komuniti yang sama. Mungkin sahaja sama course, sama batch, sama negeri asal kelahiran atau yang punya minat yang sama!

Ukhuwah yang sebenar ; adalah gugusan perasaan saling hormat-menghormati, saling mempercayai, resapan kasih dan mahabbah antara sesama individu, atas dasar aqidah Islamiyyah, iman dan taqwa.

Subhanallah, hebat kan?

Bila menyemak kembali makna sebenar ‘ukhuwah’, tidak dapat tidak untuk kita mengaitkan dengan asas ukhuwah yang baik dibina dari keimanan yang benar kepada Allah S.W.T. Lihat sahaja tingkatan terendah dalam berukhuwah, yakni ‘salamatus sadr’ atau berlapang dada dengan sahabat kita. Hal ini tidak akan sesekali kita capai, melainkan dengan keimanan yang mantap kepada Allah. Dengan wujudnya rasa Allah Maha Mengetahui walaupun yang tersirat di dalam hati, maka kita sendiri tidak akan cuba untuk bersangka buruk (su’uzhon) dengan sahabat kita.

Kita lihat pula pada tingkatan tertinggi ukhuwah ; ‘ithar’ yang bermaksud melebihkan sahabat berbanding diri sendiri. Perkara ini jika dilihat dengan pandangan kasar seorang manusia, tidak mudah untuk dilakukan kerana ‘ithar’ berkait rapat dengan pengorbanan. Dan menjadi sifat manusia biasa untuk tidak mudah melakukan pengorbanan melainkan diberikan jua balasan setimpal. Tanpa keimanan yang kukuh di hati, perkara ini pasti dianggap mustahil. Tetapi tidak bagi manusia yang berukhuwah dengan ukhuwah yang benar, kerana Allah Azza Wajalla.

 Pernahkah kita merenung peristiwa saat Rasullullah SAW mempersaudarakan Abdul Rahman Bin Auf dengan Sa’ad Bin Ar-Rabi? Ketika itu Saad berkata kepada Abdul Rahman:
“Aku termasuk orang Ansar yang mempunyai banyak harta kekayaan dan kekayaanku itu akan kubagi dua, separuh untuk kau dan separuh untukku. Aku juga mempunyai 2 orang isteri, lihatlah mana yang kau berkenan. Sebutkan namanya, ia akan aku segera kucerai dan sehabis masa iddahnya kau kupersilakan nikah dengannya.”.

Lihatlah bagaimana ikatan ini terjalin, padahal sebelum itu Saad dan Abdul Rahman terpisah dek jarak yang jauh; seorang di Mekah dan seorang lagi di Madinah. Inilah antara peristiwa menarik berkaitan indahnya ukhuwah yang terpupuk sesama mukmin semasa peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah.

Maksud ukhuwah menurut Imam Hasan al-Banna, “Yang saya maksudkan dengan ukhuwah adalah : mengikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa ini dengan ikatan aqidah, dan aqidah merupakan ikatan yang paling kukuh dan paling mahal harganya, dan ukhuwah adalah saudara keimanan, sementara perpecahan adalah teman dari kekufuran, kekuatan yang utama adalah persatuan dan tidak ada persatuan tanpa cinta, dan cinta yang paling rendah adalah lapang dada, sementara yang paling tinggi adalah ithar (mengutamakan saudaranya). “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. (QS Al-Hasyr : 9)

Elemen ukhuwah sangat penting dalam penyatuan umat Islam. Hanya dengan ukhuwah yang mantap sesame Muslim dapat menjamin kebersamaan kita dalam menegakkan ad-Deen dan menentang kemungkaran. Pudarnya  elemen ukhuwah merupakan antara faktor kelemahan umat pada hari ini. Masakan ada pepatah Melayu yang menyebut, “Bersatu kita teguh, bercerai kita roboh”.

Di saat saudara Muslim kita dibedil dengan zalimnya di Palestin dan Syria, apakah kita sama-sama turut merasai kesakitannya? Apabila saudara seaqidah kita ditembak secara rambang di masjid di Selatan Thailand, adakah kita cakna mengenainya? Tepuk dada, tanya iman kita. Sedangkan Rasulullah S.A.W bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan belas kasih serta cinta adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Mari kita muhasabah diri kita kembali. Persahabatan kita, persaudaraan kita. Ukhuwah fillah kita, adakah sekadar ucapan manis di bibir, atau kita benar-benar mengimani makna ukhuwah fillah itu. Allahua’lam.
READ MORE